Jogja Antique

Friday, March 12, 2010

Saat Panen Tiba di Tepi Bengawan Solo

Sejak kecil orang tuaku memang bertani, jadi seluk belum tentang pertanian sedikit banyak aku tahu. Termasuk juga berkebun, menanam sayuran, bercocok tanam, mencangkul, menunggu jatah air (leb dari subak), memanen padi, mengeringkan gabah sampai pergi ke Tukang seleb untuk memisahkan gabah menjadi beras dan katul serta merang.

Begitupun minggu-minggu ini, saat aku ambil cuti panjang, ternyata di rumah sedang musim panen padi. Aku ikut memanen, mengangkut gabah dari sawah ke rumah dan seterusnya. Karena selama ini kerja kantoran, malam pertama setelah memanen padi gak bisa tidur, badan pegel semua, otot kaku-kaku dan kaki susah digerakkan. Wajar saja, soalnya mengangkat karung berisi gabah yang jumlahnya cukup banyak, tak ubahnya latihan endurance dan power di ruang fitness.

Hari kedua sudah agak lumayan, dan seminggu kemudian sudah terbiasa lagi dengan kehidupan bertani. Habis subuh pergi ke sawah, mencangkul sedikit, menyiapkan lahan untuk menanam palawija, jam 9 ada yang mengirim nasi dan sekedar teh manis ke sawah untuk sarapan pagi, dan siangnya sekitar jam 12.00 pulang. Sorenya habis ashar sudah pergi ke sawah lagi, mencangkul lagi, membersihkan rumput-rumput, kemudian sore menjelang senja mencari rumput untuk pakan kambing di rumah.

Kehidupan masa kecil yang terulang, bisa untuk sejenak melupakan kesedihan karena ditinggal Bunda tercinta, walaupun setelah magrib teringat lagi dan berdoa lagi untuk Bunda tercinta.

Bunda... aku kangen....

BERITA KOMPAS