Jogja Antique

Friday, February 12, 2010

Mengenang 7 Hari Ibunda Tercinta : Sayur Kesukaan




Sewaktu aku SMP, aku harus naik sepeda kurang lebih 20 km pp. Berangkat dari rumah jam 6.15 sampai di sekolah jam 07.00, dan waktu pulang adalah pukul 13.00, sampai di rumah pukul 13.45. Naik sepeda 45 menit diwaktu siang bolong adalah rutinitasku, karena klo naik kendaraan umum, gak ada ongkosnya.

Untuk itu, setiap pulang sekolah, ibu sudah menyiapkan nasi plus sayur yang berkuah bening, entah sop, sayur bening, sayur asem atau sejenisnya. Lauk dipastikan belum tentu ada, kadang sayur bening sama sambel aja, atau paling bagus sama tempe goreng 1biji. Itu sudah istimewa bagiku. Karena ibu selalu memperjuangkan sayur yang berkuah agar rasa hausku terobati dengan makan sayur itu.

Tidak heran klo ibu memperjuangkan itu, demi rasa sayangnya pada diriku. karena ibu paham dan tau betul, diwaktu umuran 5 tahun, aku kadang makan nasi, kadang gak makan nasi. Pernah suatu ketika kuingat, dalam sehari aku hanya makan buah kelapa. Keesokan harinya sepanjang hari makan buah terong.

Dapat dibayangkan, nasi jagung, tiwul atau umbi2an saja tidak punya, apalagi nasi putih. Oleh karena itulah mengapa ibu sangat menyayangiku, karena aku dianggap ikut dalam masa-masa perjuangannya berkeluarga untuk mandiri.

Aku tak kan pernah melupakan sayurmu yang selalu berkuah di siang hari, baunya, sedanya bahkan bumbunyapun aku bisa mencium dari luar rumah. Kasih ibu untukku selalu.

BERITA KOMPAS