Jogja Antique

Friday, February 12, 2010

Kenangan Ibuku Tentang Sayur Buncis





Ibuku selalu memberiku makan dengan menu yang berbeda-beda, walaupun hanya sayur-sayuran dan sepotong tempe atau tahu, namun sayur dan cara memasaknya selalu bervariasi. Kadang sayur daun pohong, daun pepaya, kubis, sawi, kenikir dll. Namun ada sayur yang aku tidak mau makan, namanya sayur buncis.

Ibu selalu mendidik dengan keras, semua masakan yan beliau sediakan harus dimakan, alasannya :
1. Tidak setiap orang mampu makan nasi dan sayur apalagi lauk.
2. Selama sayuran itu tidak beracun atau membuat sakit, maka harus dimakan.
Dua alasan yang masuk akal, ditengah kemiskinan yang menimpa kami. Ibu harus membagi-bagi uang belanja dengan berbagai urusan, mulai dari sekedar makan 3 kali sehari, beli sayur sampai biaya sekolah anak-anaknya dan biaya kuliah adik-adiknya. Jadi wajar klo beliau marah bila masakan yang disediakan dengan susah payah gak dimakan anaknya.

Oleh karena itu, bila ada anaknya gak mau makan salah satu sayur, maka ibu akan memasak sayur itu selama berminggu minggu bahkan kalau perlu satu bulan tidak ganti menu. Dan khusus untuk aku adalah sayur buncis, karena menurutku baunya langu dan gak sesuai seleraku. Namun karena ibuku memasaknya berulang-ulang setiap hari, maka akhirnya aku mau makan juga, soalnya lapar juga klo gak makan sayur itu.

Bahkan di akhir-akhir aku smp, sayur buncis yang dimasak oseng-oseng (pedes dan gak pakai kuah) menjadi sayur favoritku, syaratnya cara masaknya dan yang memasak harus IbUKU.

Selamat jalan ibunda, kenangan-kenangan terindah bersamamu selalu kuingat dan tak terlupakan. Semoga engkau bahagia di SANA

BERITA KOMPAS