Jogja Antique

Sunday, January 18, 2009

Tantangan Menjajal Keberanian


Sabtu, 20 Desember 2008 07:33 WIB
Permainan tantangan, yang awalnya menjadi bagian dari kegiatan luar ruang (outbond) untuk membangun kerja sama, kini semakin digemari. Pemainnya tidak lagi harus meluangkan waktu dua hari satu malam atau lebih untuk bisa bermain permainan tantangan.
Kini hampir setiap tempat wisata, hotel, dan restoran yang mempunyai lahan luas juga menyediakan fasilitas permainan tantangan. Ada yang panjat jaring, lintasan monyet, maupun flying fox (terbang meluncur) bisa dicoba hanya dalam waktu sekitar satu jam. Biayanya pun tidak terlalu mahal.
Bagi peserta yang belum pernah mencoba, permainan tantangan ini tentu menegangkan. Peserta tidak hanya harus memanjat pada tali-tali yang terus bergoyang, namun juga harus memanjat dengan kekuatan dari tubuh sendiri karena tangga yang dipasang bersudut 90 derajat. Selain itu, peserta juga harus meluncur dari ketinggian.
Riki Rinaldi (32), dari Outing Venture Games (OVG) Taman Safari Cisarua, Bogor, mengaku, saat ini dia telah dan sedang membangun infrastruktur permainan tantangan di Sentul, Ciseeng, Taman Mini Indonesia Indah, dan di Anyer. ”Di Puncak, mungkin puluhan tempat yang menyediakan permainan tantangan ini,” kata Riki.
Sambutan masyarakat akan permainan ini memang luar biasa besar. Bahkan, Riki sendiri mengaku sudah bisa menjadikan pengelolaan permainan tantangan ini sebagai mata pencarian.
Mungkin banyak orang yang berpikir, kenapa harus membayar untuk memanjat ke pohon, lalu meluncur begitu. Kenapa peserta harus merasa ngeri melintas di tali yang terus bergoyang jika diinjak. Mungkin saja kecelakaan terjadi dan peserta terjatuh. Sungguh mengerikan.
Menurut Riki, dengan bermain tantangan, peserta bisa belajar mengambil keputusan, melatih kepercayaan diri, dan belajar menghadapi situasi bahaya yang bisa datang kapan saja. ”Kita tidak pernah tahu apa yang kita hadapi ke depan. Bisa saja suatu saat dihadapkan pada situasi, di mana kita dituntut untuk segera melakukan sesuatu. Misalnya, terjebak dalam kebakaran, apakah kita harus meloncat atau bagaimana. Permainan tantangan ini melatih kita bagaimana harus bersikap dalam situasi seperti itu,” kata Riki.
Tidak bisa mengambil keputusan dengan cepat, biasanya disebabkan oleh rasa takut. Padahal, 90 persen rasa takut itu muncul karena pikiran kita sendiri. Apabila pikiran kita tidak mengatakan takut, maka tidak akan takut. ”Permainan tantangan bisa membantu kita menghilangkan rasa takut,” kata Riki.
Dalam permainan ini, peserta juga diajak belajar percaya pada alat. Walaupun harus berjalan di atas seutas tali, peserta tidak akan celaka. Setiap peserta diwajibkan memakai peralatan seperti helm, tali, dan karabiner sehingga tidak akan jatuh langsung ke tanah jika terpeleset. Petugas pun telah dilatih untuk menjaga setiap peserta selama melakukan permainan itu.
Walaupun demikian, Riki menambahkan, hasil selanjutnya dari permainan ini sangat bergantung pada setiap orang. Bisa saja ketika melakukan permainan tantangan ini, seorang peserta akhirnya berani melakukan. Namun, setelah itu dia tidak mau memelihara rasa berani ini, maka dia tidak akan berubah. Akan tetapi, jika dari permainan ini tumbuh rasa percaya diri yang kuat karena mampu melakukannya, maka dia akan berubah. Dia akan merasa optimistis dari setiap situasi yang dihadapi.
Sekarang, apakah Anda berani mencoba?

BERITA KOMPAS