Jogja Antique

Wednesday, October 3, 2007

Bersahabat dengan Bumi

04/10/2007 08:33:49 BANYAK orang lupa bahwa kita tinggal di bumi. Jadi bumi adalah ruang hidup, sumber makanan dan energi kita, sarang kita, tempat kita bermain dan berpentas, tempat tumpah darah kita dan tempat kita dikebumikan. Materi yang membentuk badan kita berasal dari bumi dan jasad kita yang tidak berjiwa lagi akan kembali ke bumi. Kita anggap bumi sengaja dicipta untuk kita dan tidak perlu dihiraukan lagi. Salah satu sebabnya adalah pada banyak sekolah dan madrasah tidak diajarkan lagi geografi fisik atau geofisika. Topografi negerinya saja banyak yang tidak tahu, apalagi geografi ekonomi, geografi manusia, geografi sejarah, geografi penyakit, geografi bencana alam, geografi hayati (biogeografi), geografi agama dan sebagainya. Ruang adalah sesuatu yang tidak boleh tak ada (sine qua non) bagi manusia, seperti juga waktu. Tidak jarang orang bertengkar atau berperang karena geografi, dan banyak negeri mengubah geografinya. Menyadari bahwa bumi adalah kediaman dan sumber makanan kita, mengherankan mengapa kita merusak, mencemari dan mengubah-ubah yang sudah baik untuk keuntungan sementara. Dampak aktivitas manusia terhadap bumi besar sekali dibandingkan dengan makhluk hidup lain dan sebagian besar biomassa sekarang terkumpul dalam badan manusia, bukan lagi hewan. Biomassa tetumbuhan kita kurangi secara besar-besaran. Oleh karena kita anggap bumi sudah dibuat untuk kita, maka kita tidak perlu memikirkan lagi nasib bumi. Bumi akan mengurus dirinya sendiri dan tidak mungkin bumi rusak sama sekali. Ini mungkin benar, tetapi soalnya apakah ia masih memungkinkan manusia hidup. Punahnya manusia tidak merugikan bumi sama sekali. Berbagai makhluk hidup tetap punah di masa lampau, tetapi bumi tetap masih ada. Apa yang kita semai di masa lalu sekarang kita tuai. Beribu gunung es, dengan panjang antara 2 dan 20 km, mencair dan terlepas dari Antartika, begitu pula di Groenland. Apakah pemanasan global yang terjadi merupakan bagian dari masa interglasial (antara zaman es)? Kejadian-kejadian tersebut mengubah biota (polanya dan distribusinya). Perubahan iklim di mana-mana dapat dirasakan oleh awam. Pola curah hujan dan salju, frekuensi dan intensitas badai dan taufan, banjir dan kekeringan seolah-olah tidak menurut aturan-aturan yang kita ketahui. Waktu saya ke Jerman bulan November tahun yang lalu, cuaca belum dingin, tetapi waktu saya bulan September tahun ini ke sana, dingin menusuk tulang. Perubahan-perubahan musim di masa yang telah lama silam pernah juga terjadi. Komposisi udara pernah berubah, sehingga kadar O dan N misalnya tidak seperti sekarang. Kutub-kutub magnetis pernah terbalik (reversal). Meteorit atau asteroid dapat mengubah lingkungan begitu cepat, sehingga pernah sampai 90% spesies hewan punah, seperti misalnya 65 juta tahun yang lampau. Lemping tektonik terus bergerak, menunjukkan lagi bahwa tidak ada yang diam dan tetap di bumi. Akan tetapi pada abad terakhir ini faktor manusia berperan penting sebagai pengubah bumi, terutama untuk keuntungan, kenyamanan dan kesenangan, sehingga kita lupa bahwa kemampuan kita terbatas, seperti ada batas pula bagi kerakusan manusia. Maka timbullah sekarang usaha-usaha green living, green architecture dan lain-lain. Kita ingin mengurangi penghamburan energi dan emisi gas-gas rumah kaca. Di banyak tempat orang tidak lagi memakai kantong plastik dan hiperkonsumsi dihindari. Upaya penghutanan kembali dilakukan dengan banyak rintangan. Sangat menarik bahwa pencemaran dan exploatasi bumi yang dilakukan bangsa-bangsa berbeda-beda besarnya. Ketidak-setaraan dan ketidak-adilan ini terus berlangsung, ditunjang oleh globalisma neokapitalistis. Urbisasi (terbentuknya kota-kota) terjadi terus dan satu waktu dunia hanya terdiri atas kota-kota, yang merupakan satu kelemahan dalam strategi bertahan hidup manusia. Kalau kita benar ingin bertahan hidup, kita harus bersahabat dengan bumi. Kita ketahui bahwa kota bukanlah suatu ekosistem yang lengkap. q -z Yogyakarta KR, 4-10-2007

BERITA KOMPAS