Jogja Antique

Showing posts with label upasara wulung. Show all posts
Showing posts with label upasara wulung. Show all posts

Saturday, January 10, 2009

Happiness Box

Sabtu pagi aku menonton salah satu stasiun televisi yang menayangkan tentang bagaimana menyimpan kebahagian dan sewaktu waktu kita membutuhkan kebahagiaan itu maka dengan cepat kita dapat melakukannya. Di contohkan di acara tersebut beberapa surat cinta, keinginan keinginan yang simpel, foto-foto yang dulu pernah membuat kita merasa bahagia, dimasukkan dalam kardus kemudian kardus itu diberi label " Happiness Box ".

Hmm silahkan bagi yang sepakat atau yang tidak sepakat. Menurutku ada benarnya juga, cuma teknik penyimpanan dan pemunculan kebahagiaan bisa beda-beda. Pengalama pribadi, hal ini sering aku kaitkan dengan pemunculan motivasi, bukan dengan kebahagiaan. Misalnya di saat kita kehabisan energi untuk menjalin komunikasi dengan pasangan kita, aku selalu membaca ulang kisah asmara dewi gayatri dan upsara wulung yang dimuat dalam kisah Senopati pamungkas karangan arswendo atmowiloto. Ketika aku kecewa dengan nasabah atau pelanggan yang mengata ngataiku dengan kasar dan kotor, aku membaca kisah mahesa jenar sang kstaria yang selalu siap melayani masyarakat yang membutuhkan. Dan seterusnya....

Sehingga dapat disimpulkan, ide happines box cukup menarik, namun dapat kita lakukan dengan tujuan, cara dan teknik yang berbeda. Semoga ada manfaatnya....

Monday, June 9, 2008

Upasara Wulung

Kisah Senopati pamungkas dengan tokoh utama upasara wulung, ksatria lelananging jagad sudah beberapa kali kubaca, namun tetap saja ku ulang dan ku ulang terutama seri ke 11 untuk buku terbitan lama. Tidak bosan-bosannya aku membaca karena walaupun fiksi agak masuk akal gaya ceritanya walau kadang memang hanya mungkin tapi belum pasti bisa dilakukan.

Suatu misal diceritakan seseorang bernama wilanda, dia berasal dari bajak sungai, maka keunggulannya dalam bertarung adalah kepiawaiannya dalam meringankan tubuh, sementara bagi pendekar yang berasal dari gunung akan sangat kokoh dalam hal kuda-kuda. Sehingga dalam pertarungan diceritakan secara runtut dan enak dibaca dimana penjelasan tentang keunggulan diri dan kelemahan lawan untuk mencapai kemenangan begitu mengalir

Dan entah tiada angin dan hujan, tiba-tiba di sms temen mau dikirimi buku terbitan baru. Katanya suruh nyimpan.... woooowwww... Rezeki gak baik ditolak...
semoga ada manfaatnya

Friday, November 9, 2007

Senopati Pamungkas karya Arswendo Atmowiloto


Baginda Raja Sri Kertanegara membawa Keraton Singasari ke puncak kejayaan yang tiada taranya pada awal sejarah keemasan. Pasukan Tartar yang berhasil menaklukkan dunia dipecundangi. Umbul-umbul berlambang singa berkibar ke seberang lautan.
Idenya mendirikan Ksatria Pingitan, semacam asrama yang mendidik para prajurit sejak usia dini, menghasilkan banyak ksatria. Di antaranya Upasara Wulung, yang sepanjang usianya dihabiskan di situ.
Upasara Wulung terlibat dalam intrik Keraton, perebutan kekuasaan, pengkhianatan, keculasan, terseret arus jago-jago kelas utama: mulai dari Tartar di negeri Cina, Pu’un Banten, puncak gunung, dengan segala ilmu yang aneh. Juga lintasan asmara yang menggeletarkan.
Ilmu segala ilmu itu adalah Tepukan Satu Tangan, di mana satu tangan lebih terdengar daripada dua tangan. Di banyak negara diberi nama berbeda, tetapi intinya sama. Pasrah diri secara total.
Diangkat sebagai senopati oleh Raden Wijaya, yang mendirikan Majapahit dengan satu tekad: “Seorang brahmana yang suci bisa bersemadi, tetapi seorang ksatria mempunyai tugas bertempur, membela tanah kelahiran.”
ISBN : 979-22-0425-3; 40103015
Kategori: Fiksi dan Sastra/Klasik/Sejarah