Jogja Antique

Monday, September 21, 2026

Seleksi SMA TARUNA NUSANTARA dan Kehidupan Siswa

 Kalau sekarang aku melihat kembali perjalanan itu, masuk SMA Taruna Nusantara ternyata bermula dari alasan yang sangat sederhana: aku mencari sekolah gratis agar tidak menambah beban bapak. Aku datang bukan karena gengsi, bukan pula karena sejak kecil bercita-cita menjadi siswa Taruna Nusantara.

Namun empat hari tiga malam menjalani seleksi di Semarang perlahan mengubah semuanya. Melihat begitu banyak peserta membuatku yang semula berpikir lolos syukur, tidak pun tak apa mulai benar-benar ingin menjadi bagian dari sekolah itu. Pemeriksaan kesehatan, tes akademik, psikologi hingga samapta kulewati. Salah satu yang paling membekas adalah lari 12 menit di Stadion Diponegoro, dilanjutkan push-up, sit-up, squat jump, pull-up dan shuttle run.

Perjuangan bahkan nyaris berhenti di Magelang. Gara-gara satu nilai NEM di bawah persyaratan, aku sempat dinyatakan gagal dan diminta berkemas. Aku memberanikan diri menyampaikan argumen. Sekitar tiga puluh menit kemudian keputusan berubah: aku diterima dengan syarat.

Masuk asrama ternyata bukan akhir perjuangan, melainkan awal kehidupan baru. Ada disiplin, aturan, kerinduan kepada keluarga, juga pengalaman sederhana yang membekas puluhan tahun—termasuk kisah sepotong daging yang kusembunyikan tetapi justru “beranak” menjadi lima.

Dulu aku datang hanya karena mencari sekolah gratis. Aku tidak tahu bahwa keputusan sederhana itu akan membuka tiga tahun kehidupan yang kelak masih kuingat puluhan tahun kemudian. Ada persahabatan, disiplin, kenakalan, kegagalan, kelucuan, dan banyak pengalaman kecil yang ikut membentuk diriku.

Lima cerita ini baru sebagian kecil darinya. Selebihnya, mari kita simak disini