Jogja Antique

Showing posts with label Belajar Basket dan Pengembangan Olahraga di Perth. Show all posts
Showing posts with label Belajar Basket dan Pengembangan Olahraga di Perth. Show all posts

Saturday, January 16, 2010

Belajar Basket dan Pengembangan Olahraga di Perth, Australia (3-Habis)




Sudah Persiapkan Atlet Muda untuk Olimpiade 2016

Partisipasi, infrastruktur, organisasi. Tiga faktor itu mungkin sudah cukup untuk meraih sukses olahraga. Di Australia, ada faktor keempat yang sangat diseriusi: Sports science. Berikut catatan AZRUL ANANDA dari Perth.

Pengembangan olahraga Australia sebenarnya melalui jalur "normal" kebanyakan negara, yaitu lewat klub. Beda dengan Amerika Serikat, yang menggunakan sistem sekolah.

Meski demikian, bukan berarti sekolah tidak bisa men-serius-i olahraga tertentu, seperti basket. Ada beberapa sekolah menengah di Perth, Negara Bagian Western, Australia, yang punya program basket sangat serius. Dua di antaranya adalah Woodvale dan Willetton.

Dua sekolah itu menjadi partner latihan dan pertandingan tim All-Star DetEksi Basketball League (DBL) Indonesia, tim anak-anak SMA pilihan liga basket pelajar terbesar di Indonesia, yang selama seminggu terakhir berada di Perth untuk mengikuti program DBL Western Australia Games 2008.

Misi utama DBL ke Perth memang bukan untuk bertanding. Yang paling penting adalah belajar dan belajar. Para pemain dan pelatih mendapatkan ilmu dan pelatihan cara Australia, sedangkan DBL mendapatkan pelajaran tentang pengelolaan organisasi basket.

Karena Australia menganut jalur klub, sedangkan DBL menggunakan sistem antarsekolah, sejenak mungkin program ini tidak nyambung. Tapi, sebenarnya di Perth program klub dan sekolah itu komplementer.

Ambil contoh di Willetton Senior High School, sekolah juara basket di Perth. Meski program basketnya serius, total latihan yang diberikan kepada siswa hanya lima jam seminggu sebagai pengganti kelas olahraga dan kesehatan. Itu pun yang satu jam bisa disisihkan untuk olahraga lain agar ada variasi latihan.

Anak-anak yang berminat basket boleh bergabung, dengan catatan memenuhi persyaratan akademis dan punya skill atau bakat mumpuni. Mereka harus ikut try out dan wawancara sebelum diterima ikut program.

"Sebenarnya, tidak ada nilai minimum. Kalau dia anak yang nilai maksimalnya C, ya dia harus mampu menjaga nilai itu. Kalau dia nilainya A, yang tidak boleh jatuh terlalu jauh," jelas Michael Forsyth, salah seorang pelatih basket Willetton.

Forsyth yang sudah 19 tahun melatih di Willetton menuturkan pernah menolak anak masuk program meski punya bakat basket. Sebab, performa anak itu di sekolah tidak memenuhi persyaratan. "Kami tidak menolaknya begitu saja. Kami memberi dia waktu satu masa ajaran. Kalau dia bisa memperbaiki performa akademis, kami akan mewawancarainya lagi," terangnya.

Program SMA Willetton itu beriringan dengan Willetton Basketball Association, klub yang punya julukan Tigers. Jadi, anak-anak itu mendapatkan latihan dari dua sisi, dari sekolah maupun klub. Keduanya pun saling mengisi. Kadang ikut kompetisi junior (berbagai tingkat umur), kadang ikut kompetisi antarsekolah. Tapi, masing-masing tidak boleh saling mengganggu.

Forsyth mengungkapkan, pernah ada anak Willetton yang terpilih untuk masuk tim negara bagian. Karena telah mendapatkan porsi latihan berlebih, anak itu dilarang latihan bersama teman-teman sekolah. Supaya tidak overtraining.

"Dianya ngotot ingin latihan. Tapi, kami memaksanya untuk istirahat," tegas Forsyth.

Sang pelatih sebenarnya mengaku iri pada cara Amerika Serikat, bahkan cara DBL di Indonesia. Secara pribadi, dia lebih suka sistem sekolah. "Kalau seperti di AS, pekerjaan saya akan terasa lebih berarti," ucapnya.

***

Mana yang lebih baik: Jalur sekolah atau jalur klub? Dua jalur itu tentu sama-sama punya keunggulan dan kekurangan. Australia sukses menggunakan sistem klub dan sistem sekolahnya tidak mengganggu.

Saya pribadi, mungkin karena dapat didikan AS, lebih suka sistem sekolah untuk Indonesia. Bukan semata-mata untuk ikut AS, tapi karena saya merasa Indonesia punya situasi yang lebih cocok untuk itu.

Indonesia ini begitu luas. Penduduknya pun begitu banyak. Kalau lewat sekolah, kita bisa mendapatkan partisipan lebih banyak. Total anggota klub basket di Indonesia boleh ribuan, tapi jumlah anak sekolah itu jutaan. Siapa tahu sekarang ada Michael Jordan Indonesia, tapi kemampuannya tidak akan pernah ketahuan karena tidak punya akses ke klub.

Belum lagi soal pendanaan. Sekolah, menurut saya, akan lebih mudah untuk mendapatkan sumber dana. Sekolah memberikan image "Peduli Edukasi" bagi sponsor. Sebagai timbal balik, sekolah punya banyak pendukung. Entah itu siswa-siswa, orang tua, atau alumni. Keramaian dan kepastian dukungan itu tentu memudahkan sekolah "me-marketing-kan" diri. Kalau sekolah itu punya seribu siswa, sponsor pun meng-ekspose-kan diri di hadapan minimal seribu orang.

Kalau mensponsori klub? Paling dapat puluhan atau ratusan anggota. Kalau ada pertandingan, penonton juga belum tentu seribu orang.

Sekarang, kecenderungan sponsor ini sudah terjadi di Indonesia. Kompetisi-kompetisi antarsekolah (seperti DBL) seolah lebih mudah mendapatkan dukungan sponsor daripada kejuaraan antarklub.

Kalau sudah begitu, kekuatan ekonomi itulah yang kelak mungkin membelokkan sistem anutan, jalur klub atau sekolah. Tapi, andai itu terjadi, harus ada yang membuat keputusan mau ikut sistem mana. Dan harus tegas. Kalau masyarakat (dan sumber dana) bilang jalur sekolah, maka harus ada yang mengambil sikap demikian pula.

"Di negara-negara Asia, biasanya yang seperti ini memang bermasalah. Kalau mengendarai mobil, ada satu departemen yang pegang setir, departemen lain tekan pedal gas, lalu departemen lain lagi tekan pedal rem," kata Hallam Pereira, international project director Departemen Olahraga dan Rekreasi Western Australia.

***

Partisipasi, infrastruktur, dan organisasi saja sudah sulit untuk kompak. Di Australia, ada satu hal yang menjadi faktor penting dalam mencapai prestasi olahraga tingkat dunia. Yaitu sports science. Kata Pereira, sports science adalah "icing on the cake". Pelapis manis yang membuat kue makin lezat.

Pria asal Sri Lanka itu dulu mendapatkan gelar PhD dalam bidang sports science. Dia lantas memberikan contoh bukti betapa bergunanya hal tersebut. Yaitu tim hoki Australia yang meraih medali emas di Olimpiade 1996 di Atlanta, AS.

Olimpiade itu diselenggarakan pada musim panas. Dan panas sekali. Tim Australia sebenarnya punya dua warna seragam, hijau gelap dan kuning (emas). Ketika berlatih di AS, ternyata didapati bahwa ketika bertanding memakai kostum hijau gelap, suhu tubuh pemain naik 1,1 derajat Celsius.

Australia pun memutuskan untuk langsung ganti kostum. Menjadi putih dan kuning terang supaya para pemain bisa bermain dalam kondisi lebih dingin.

Sports science lantas berguna untuk menentukan strategi. Pada awal pertandingan, tim Australia diminta untuk sengaja tidak mencetak gol. Bahkan, kalau mengumpankan bola, mereka sengaja diminta untuk selalu memukul menjauh dari orang yang akan diumpan.

Tujuannya? Ketika mengumpan menjauh dari teman, pemain lawan yang menjaga sang teman harus berlari lebih cepat dan lebih jauh kalau ingin merebut bola. Misalnya, sang teman harus berlari tiga langkah untuk mencapai bola yang diumpankan. Kalau begitu, pemain lawan harus berlari lima langkah (dan lari lebih cepat) kalau ingin merebutnya.

Strategi itu berhasil. Di tempat yang sangat panas, tim hoki Australia mampu membuat lawan-lawannya lelah lebih cepat. Akibatnya, di babak akhir pertandingan, Australia bisa merajalela dan kemudian merebut medali emas.

Sports science pula yang membuat Australia punya cara latihan berbeda. Menurut Pereira, atlet Australia mampu sukses meski menjalani latihan kelenturan delapan persen lebih sedikit daripada negara maju lain.

Alasannya: Buat apa latihan kelenturan kalau orang pasti punya batas maksimalnya. Makin tua, kelenturan orang pasti akan berkurang. Mau diberi latihan apa pun tidak akan bertambah maksimal. "Bayi itu kelenturannya maksimal. Orang yang sangat tua kelenturannya minimal," tandas Pereira.

Daripada menghabiskan waktu melatih sesuatu yang tidak bisa di-improve, lebih baik menggunakan waktu itu untuk mengembangkan kemampuan lain.

***

Sports science kini terus dikembangkan di Australia. Di Perth ada dua universitas yang punya program kelas dunia di bidang tersebut. University of Western Australia (UWA) dan Edith Cowan University (ECU).

Saya dan tim All-Star DBL Indonesia diajak mengunjungi dua kampus itu untuk melihat fakultas sports science masing-masing.

Alangkah mengagumkannya. Di dua kampus itu terdapat berbagai macam laboratorium untuk mempelajari dan meng-improve performa atlet. Ada ruang bio mechanic yang menggunakan sederet kamera high-speed untuk merekam dan menganalisis gerakan atlet, lalu menemukan cara untuk meningkatkan performa atau memperbaiki kekurangan atlet tersebut.

Salah satu fasilitas keren pada kedua kampus itu adalah climate chamber, ruang yang bisa diubah-ubah "iklim"-nya untuk mempersiapkan seorang atlet berlatih di negara tujuan.

"Misalnya kalau Olimpiade 2016 diputuskan untuk diselenggarakan di Jakarta. Maka, kami akan langsung mengirim tim ke Jakarta untuk mengukur suhu, karakter udara, dan lain sebagainya," jelas Pereira. "Atlet kami lantas dimasukkan dalam climate chamber, yang men-simulasi-kan situasi di Jakarta. Dari simulasi itu, kami kemudian menentukan porsi latihan yang harus dia jalani, jenis makanan apa yang harus dikonsumsi, dan lain-lain," lanjutnya.

Kalau itu atlet renang, tambah Pereira, maka dia akan diberi tempat berlatih yang kondisi airnya dibuat mirip dengan di Jakarta.

Karena keputusan lokasi Olimpiade sudah diberikan bertahun-tahun sebelumnya, sang atlet pun lantas bisa bertahun-tahun menyiapkan diri sesuai dengan kondisi di negara yang akan dituju. Para atlet tuan rumah pun bisa dibilang kehilangan sebagian keunggulan main di kandang.

***

Di mana Olimpiade 2016 bakal diselenggarakan, sekarang masih belum diputuskan. Bisa di Chicago, Illinois, AS, bisa di kota lain di negara lain. Tapi, di mana pun lokasinya, Australia sudah siap untuk mempertahankan prestasi, bahkan mungkin memperbaikinya.

Pereira mengungkapkan, Australia sudah menyiapkan anak-anak umur 12 tahun yang kelak menjadi atlet nasional di Olimpiade 2016. Mereka sudah diidentifikasi sejak dini dan diberi porsi latihan sesuai dengan pertumbuhan masing-masing. Dengan bantuan sports science, perkembangan mereka bakal sangat terukur.

Mendengar itu, saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Untuk mengalahkan itu, Indonesia mungkin butuh waktu lebih dari sepuluh tahun. Untuk menata organisasi, membangun infrastruktur, dan meningkatkan partisipasi olahraga secara nasional saja tidak cukup lima tahun. Dari situ didapat atlet-atlet sangat muda, yang kemudian butuh minimal lima tahun lagi untuk "jadi" dengan bantuan sports science.

Itu pun kalau ada yang mengambil keputusan untuk dimulai SEKARANG.... (habis)

Belajar Basket dan Pengembangan Olahraga di Perth, Australia (2)

Empat Ratus Lapangan Indoor Masih Belum Mencukupi

Perth hanya punya 1,5 juta penduduk. Di kota itu sudah ada 400 sampai 500 lapangan basket indoor. Ternyata, jumlah tersebut dinilai masih belum cukup. Berikut catatan AZRUL ANANDA, yang kini berada di Perth bersama tim All-Star DetEksi Basketball League Indonesia di dalamnya dua siswi SMA Kristen Eben Haezar Manado, Tyac Korah dan Cycilia Mandak.

PARTISIPASI olahraga di Australia luar biasa. Sebanyak 87 persen warganya terlibat dalam olahraga. Sisanya adalah bayi atau warga usia lanjut yang sudah sulit beraktivitas. Dengan tingginya tingkat partisipasi itu, tentu menuntut dua faktor lain untuk mengimbangi: infrastruktur dan organisasi.
Selama di Perth dalam seminggu terakhir, saya dan tim All-Star DetEksi Basketball League (DBL) Indonesia tak pernah mengeluh soal fasilitas latihan. Datang ke Perry Lakes Stadium, ada delapan lapangan indoor yang bisa dipakai. Datang ke Willetton Basketball Stadium, ada empat lapangan. Begitu juga di Joondelup Basketball Stadium.
Pokoknya, di sini lapangan, di sana lapangan, di mana-mana lapangan. Itu belum termasuk yang outdoor dan fasilitas untuk cabang olahraga lain seperti tenis, renang, hoki, dan lain-lain lagi.
Karena itu, latihan pun jadi lebih efektif. Tim putra dan tim putri All-Star DBL Indonesia bisa berlatih bersebelahan tanpa saling mengganggu. Dimulai bersamaan, berakhir bersamaan. Kalau berlatih bersama anak-anak dari SMA-SMA di Perth, tinggal pakai saja empat lapangan. Semua serbaefektif. Apalagi, selalu tersedia bola untuk semua anak. Satu anak pegang satu bola.
''Ada 400 sampai 500 lapangan basket indoor di Perth,'' kata Hallam Pereira, international project director Departemen Olahraga dan Rekreasi Western Australia (WA). Sebelumnya dia juga mengungkapkan bahwa ada 90 ribu kolam renang pribadi di kota tersebut. Segala fasilitas itu ternyata belum dianggap cukup. Glenn Dawson dari Basketball WA (Perbasi-nya WA) bilang, tidak cukupnya disebabkan hampir semua orang ingin memakai pada jam yang sama. ''Semua orang ingin memakai lapangan pukul 4 sore sampai 10 malam, setelah pulang kerja atau sekolah,'' ungkapnya.
Sekali lagi perlu diingatkan, luas negara bagian WA hampir sepertiga Australia. Tapi, penduduknya hanya sekitar 2 juta orang. Di antara jumlah itu, hanya 1,5 juta yang menetap di Perth. Sulit dipercaya 400-500 lapangan basket indoor tidak lagi mencukupi.
Selain dianggap tidak cukup, sejumlah lapangan basket di Perth dinilai sudah tidak memenuhi syarat. Perry Lakes Stadium, tempat tim All-Star DBL Indonesia bertanding tadi malam, misalnya. Kompleks itu (bukan sekadar basket, tapi luas untuk olahraga-olahraga lain termasuk sepak bola) dalam hitungan bulan bakal dibuldoser semua.
Didirikan sejak 1959 untuk penyelenggaraan Empire Games (sekarang Commonwealth Games), gedung tersebut dianggap tidak lagi layak. Saat ini, di tanah luas yang berdekatan, fasilitas pengganti mulai dibangun. Termasuk gedung basket baru yang juga berisi delapan lapangan.
''Tahun depan, kalau DBL kembali lagi ke Perth, gedung yang sekarang ini sudah tidak ada lagi. Sudah diratakan untuk dijadikan kompleks permukiman baru,'' kata Dawson.
Challenge Stadium, gedung basket berkapasitas 5.000 penonton yang sekarang dipakai Perth Wildcats (tim profesional Perth) bertanding, tidak lama lagi juga digusur. Sebagai pengganti, di pusat kota dibangun gedung berkapasitas 10 ribu penonton.
Empat pelatih tim All-Star DBL Indonesia yang datang dari Surabaya, Mojokerto, Pontianak, dan Makassar hanya bisa geleng-geleng kepala melihat segala fasilitas di Perth. Iseng, kami pun menghitung-hitung jumlah stadion indoor di Indonesia.
Surabaya, misalnya. Penduduknya hampir 3 juta. Dengan kota-kota terdekat di sekeliling, angkanya lebih dari 5 juta. Lapangan basket indoor yang ada mungkin masih dalam hitungan jari. Itu pun semuanya single court. Tidak ada yang punya dua court, apalagi sampai delapan.
Hallam Pereira mengungkapkan, negara-negara di Asia biasanya agak salah kaprah soal membangun fasilitas olahraga. Rata-rata membangun yang besar-besar, dengan fasilitas penonton sebanyak mungkin. Padahal, tribun belum tentu penuh.
Akan jauh lebih efektif seandainya uang itu dipakai untuk membangun gedung yang ukurannya tidak berlebihan, namun dilengkapi sejumlah fasilitas tambahan. Misalnya, lapangan-lapangan ekstra indoor. Toh, akan lebih banyak dipakai untuk latihan daripada pertandingan.
Catatan tambahan: Perth dan WA memang sedang makmur-makmurnya. Industri pertambangan mereka (khususnya bijih besi) sedang naik daun berkat pertumbuhan pesat Tiongkok dan India. Meski punya penduduk hanya sepuluh persen Australia, WA menyumbangkan 40 persen ekonomi untuk Negeri Kanguru.
***
Banyak partisipan olahraga, banyak fasilitas olahraga, tidak berarti organisasinya juga besar. Basketball WA, yang memayungi segala kegiatan basket di WA, hanya terdiri atas delapan orang! Termasuk CEO Rick Smith. Kantornya pun sangat sederhana di kompleks Perry Lakes Stadium. Soal kompetisi, mulai atas sampai bawah juga terstruktur begitu sederhana.
Liga basket terbesar di Australia adalah National Basketball League (NBL). Total punya sepuluh tim, tersebar di berbagai penjuru benua. Untuk perempuan, liga tertinggi di Australia adalah WNBL. Sama dengan NBL, total timnya sepuluh.
Namun, Glenn Dawson bilang WNBL tidak bisa disebut profesional. ''Lebih pantas dibilang sebagai semiprofesional, karena belum tentu menjadi pekerjaan utama para pemain. Ada yang masih pelajar dan lain sebagainya,'' jelasnya.
Dia menerangkan, Basketball WA tidak mengelola NBL. Itu adalah organisasi terpisah. Mereka juga tidak mengelola WNBL. Untuk liga perempuan itu, tugas Basketball WA adalah membina tim lokalnya, Perth Lynx.
Basketball WA baru mengelola liga-liga lain di bawahnya. Secara keseluruhan, Basketball WA membawahkan sekitar 12 asosiasi atau organisasi basket di kawasan metropolitan Perth. Plus 40 lainnya di kawasan lain WA yang begitu luas. Tidak ada pengurus cabang kota, pengurus cabang kabupaten, atau lain-lain. Langsung dari Basketball WA ke asosiasi (bisa klub, perkumpulan warga sewilayah, atau lain-lain).
Liga tertinggi yang dikelola Basketball WA adalah State Basketball League (SBL). Berarti, inilah liga tertinggi di bawah NBL. Mengapa bernama ''State''? Sebab, yang dikejar adalah juara negara bagian, tidak ada juara nasional. Ada total enam SBL di Australia, karena ada enam negara bagian.
Di bawah Basketball WA, ada 16 tim yang terjun di SBL. ''Tidak semua asosiasi ikut karena wilayah WA yang begitu luas, sehingga biayanya terlalu mahal untuk sejumlah asosiasi,'' jelas Dawson.
Soal biaya itu pula yang membuat SBL tidak memiliki juara nasional. Pada dasarnya, lebih baik biaya tersebut digunakan mengembangkan kompetisi di wilayah masing-masing.
Timing kompetisi pun diatur supaya SBL bisa beriringan dengan NBL. Bila NBL bermain saat musim panas (yang di Australia jatuh pada akhir hingga awal tahun), SBL diselenggarakan pada musim dingin (pertengahan tahun). ''Terkadang, pemain NBL yang masih muda bisa menambah pengalaman dengan terjun lagi di SBL,'' ungkap Dawson.
Untuk junior, ada kompetisi Western Australia Basketball League (WABL, sering disebut singkat ''Wabel''). Pembagian usianya seperti di kebanyakan negara lain. Ada U-23, 20, 18, 16, 14, dan 12. Sebagai pendamping, ada lagi U-19, 17, 15, dan 13 untuk terus menambah jam terbang para pemain muda.
Kompetisi regional berlangsung setiap Mei sampai Oktober. Kemudian, mencari juara State (negara bagian) pada Oktober sampai Desember.
WABL ini sebenarnya tidak mencari juara nasional. Tapi, untuk U-20, 18, dan 16, akan dicari tim pilihan (semacam All-Star). Saat libur sekolah, mereka pergi ke kejuaraan nasional yang pindah-pindah. ''Hanya seperti karnaval seminggu,'' ucap Dawson.
***
Di Australia, pengembangan olahraga memang lewat jalur ''tradisional'' seperti kebanyakan negara di dunia: Pakai jalur klub. Berbeda ekstrem dengan di AS, yang menganut jalur sekolah.
Lalu, bagaimana dengan kompetisi antarsekolah? Mengapa masih harus ada? Di Perth, kedua jalur itu pun ditata untuk saling mendampingi, saling membantu. (bersambung)

Belajar Basket dan Pengembangan Olahraga di Perth, Australia (1)




Warga Hanya Sumbang Tiga Jam Kerja dalam Setahun

Penduduk Australia hanya 20 juta jiwa. Dari jumlah kecil itu, sangat banyak prestasi dunia olahraga dicapai. Kuncinya mungkin adalah kerelaan jutaan warga untuk menyumbangkan jam kerja. Meski hanya tiga jam setahun. Berikut catatan AZRUL ANANDA, wakil direktur Jawa Pos, dari Perth.
---
''Memasyarakatkan olahraga, mengolahragakan masyarakat.''

Kita-kita yang hidup dan sekolah pada zaman Orde Baru tentu ingat ungkapan tersebut. Hasilnya? Tidak perlu banyak comment. Kita tahu sama tahu saja, biarkan jawabannya menjadi rahasia umum.

Meski demikian, tidak berarti ungkapan itu tidak bisa menjadi kenyataan. Untuk mendapatkan buktinya, kita tak perlu belajar sampai negeri Tiongkok. Cukup terbang sekitar empat jam dari Jakarta, mendarat di Perth, Australia.

Dari ibu kota negara bagian Western Australia tersebut, kita bisa mendapat secuil informasi bagaimana negara seperti Australia bisa ''memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat''. Hasilnya bukan sekadar sumber daya manusia yang unggul, tapi juga prestasi olahraga yang bikin geleng-geleng kepala.

Bayangkan. Dengan penduduk hanya 20 juta orang, dalam hal olahraga, Australia mampu bersaing dengan negara-negara maju lain yang berpenduduk hingga sepuluh kali lebih banyak.

Pada Olimpiade 2008 di Beijing, Agustus lalu, Australia berada di urutan keenam perolehan medali. Total meraup 46 medali, termasuk 14 emas. Semua negara di atasnya punya penduduk sedikitnya tiga kali lebih besar!

Tidak perlu diingatkan, he he, bahwa penduduk Indonesia lebih dari 200 juta jiwa dan Agustus lalu hanya membawa pulang satu medali emas di urutan ke-42.

Atlet Western Australia (WA) sendiri menyumbangkan tiga medali emas untuk Australia. Andai negara bagian itu tampil terpisah di Olimpiade Beijing, mereka bakal berada di urutan ke-17. Padahal, penduduk WA hanya 2 juta jiwa.

***

Selama seminggu terakhir di Perth, saya dan teman-teman dari DetEksi Basketball League (DBL), liga basket pelajar terbesar di Indonesia, telah belajar begitu banyak. Bukan hanya tentang sistem basket, pembinaan dan pengembangannya, juga tentang olahraga secara keseluruhan.

Sampai Minggu besok (19/10), DBL membawa 24 pemain SMA (12 putra dan 12 putri) dari sepuluh provinsi di Indonesia plus empat pelatih. Bekerja sama dengan pemerintah Australia (khususnya WA), tim SMA ini mengikuti program DBL Western Australia Games 2008.

Selain bertanding melawan tim-tim muda pilihan WA, pasukan All-Star DBL Indonesia juga belajar banyak tentang basket dari Basketball WA (semacam Perbasi-nya WA), SMA-SMA basket utama di Perth, plus klub profesional di kota itu, Perth Wildcats dari National Basketball League (NBL).

Tim All-Star DBL Indonesia juga mendapatkan kelas dan tambahan wawasan dari Departemen Olahraga dan Rekreasi WA. Tidak ketinggalan, mengunjungi University of Western Australia dan Edith Cowan University, dua kampus besar di Perth. Di sana, seluruh tim diajak menengok fasilitas jurusan Sports Science, yang termasuk paling top di dunia.

Sebelum bicara soal basket secara lebih spesifik, dari departemen olahraga dan rekreasi-lah kami mendapat ''pencerahan'', bagaimana prestasi olahraga bisa menjadi begitu dahsyat di Negeri Kanguru.

Bila dirangkum, pada dasarnya ada empat hal yang menjadikan olahraga Australia begitu dahsyat: partisipasi, infrastruktur, organisasi, dan terakhir sports science.

Sekilas tidak istimewa. Di atas kertas mungkin semua bisa meniru. Tapi, kalau dipahami, Indonesia -dan kebanyakan negara lain, termasuk yang maju- mungkin butuh minimal sepuluh tahun untuk mengikuti. Itu pun kalau ada political will dan support penuh masyarakat.

Partisipasi merupakan peran utama masyarakat. Tugas utama departemen olahraga dan rekreasi bukan hanya mengejar prestasi tingkat dunia, tapi juga merangsang seluruh masyarakatnya untuk berpartisipasi dalam kegiatan olahraga. Tidak harus jadi atlet, namun ada kontribusinya. Tidak harus dengan uang, tapi ada bentuk nyatanya.

''Kalau jalan-jalan di Australia, coba perhatikan, pasti banyak orang terlibat dalam kegiatan olahraga. Bisa jalan-jalan di taman, joging, bersepeda, dan lain sebagainya,'' kata Hallam Pereira, international project director Departemen Olahraga dan Rekreasi WA, yang selama seminggu ini sering menemani tim DBL All-Star Indonesia.

Memang, di mana-mana orang berolahraga di Australia. Saat di Perth saja, di mana-mana ada orang joging, bersepeda, dan mendayung di Swan River. Saat berlatih basket di sejumlah arena di Perth, tim All-Star DBL Indonesia juga bertemu sejumlah warga lanjut usia sedang berlatih bulu tangkis.

''Di antara 20 juta penduduk Australia, 87 persen berpartisipasi dalam olahraga. Yang 13 persen sisanya itu terdiri atas bayi atau orang-orang yang sudah sangat tua,'' jelasnya.

Pria asal Sri Lanka itu termasuk salah satu sosok utama di departemennya. Dulu dia atlet renang, pernah ikut Olimpiade 1964. Setelah jadi atlet, dia belajar dan belajar, hingga akhirnya mendapat gelar PhD dalam hal sports science dari (waktu itu) Jerman Timur. Baru kemudian pindah ke Australia, mengembangkan olahraga di departemen olahraga dan rekreasi.

Pereira menegaskan, partisipasi tidak harus bermain olahraga. Yang penting adalah terlibat dalam kegiatan olahraga. Dan dalam hal partisipasi itu, Australia mungkin tak ada bandingannya di dunia, salah satu kunci sukses mengejar prestasi dunia.

***

Saat ini, 1,5 juta warga Australia tercatat di departemen olahraga dan rekreasi sebagai volunteer (relawan). Mereka itu selalu menyumbangkan waktunya untuk membantu olahraga. Ada yang tidak terlalu sibuk, sehingga menyumbangkan waktu hingga tiga jam seminggu (biasanya saat weekend). Ada juga yang supersibuk, sehingga hanya menyumbangkan waktu TIGA JAM selama SETAHUN.

Cara menyumbangkan waktu? Yaitu dengan bekerja membantu kegiatan-kegiatan olahraga. ''Ada seorang ibu yang tidak bisa olahraga apa pun. Dia hanya mengerti aturan dan ukuran landasan lompat jauh. Maka, dia pun menyumbangkan waktu dan tenaganya untuk membantu penyelenggaraan even lompat jauh,'' papar Pereira.

Contoh lain dari Pereira: Seorang ayah punya anak yang tampil di liga sepak bola. Dia pun menyumbangkan tenaga dan biaya untuk mencucikan baju tim setelah latihan, sekali setiap minggu. Hari lain digantikan oleh orang tua atau relawan lain.

Contoh lebih ekstrem diberikan Pereira saat dia mengantarkan seorang pejabat olahraga Malaysia menonton even olahraga di Perth. Setelah menunjukkan tiket, mereka diantar oleh seorang relawan pria bercelana pendek ke tempat duduk sesuai yang tertulis di tiket.

Ketika diajak ngobrol, ternyata sang usher (pengantar penonton) itu begitu ''nyambung''. Sang pejabat yang berlatar belakang pengacara tersebut terus memberi pertanyaan sulit, dan sang relawan terus mampu menjawabnya. Akhirnya, pejabat Malaysia itu harus bertanya: ''Sebenarnya Anda ini siapa?''

Alangkah kagumnya dia ketika mendapat jawaban bahwa sang pengantar penonton itu adalah chairman dari Qantas Airlines! Hari itu, dia kebetulan memang sedang menyumbangkan waktunya untuk olahraga, sebagai bagian dari panitia pertandingan.

Sekali lagi, menyumbang waktu itu terkesan sederhana. Tapi, kalau diberi nilai secara keseluruhan, sangatlah dahsyat. Pereira menjelaskan hal itu lewat perhitungan uang.

Dalam setahun, jelas dia, 1,5 juta relawan tersebut menyumbangkan total 165 jam kerja. Andai mereka semua harus diberi bayaran minimal pemerintah WA, yaitu 9,09 dolar Australia sejam, nilai total gaji yang harus dibayarkan mencapai 1,5 miliar dolar Australia atau lebih dari Rp 11 triliun! Tentu saja, angka itu sangat meringankan beban biaya pengembangan olahraga.

''Tidak ada negara lain di dunia ini yang bisa menganggarkan dana untuk olahraga sebanyak itu,'' tegas Pereira.

***

Tentu saja, para relawan tidak dibiarkan bekerja tanpa balasan. Mereka diberi hadiah dengan cara berbeda. Karena terdaftar, mereka pun punya kartu khusus. Dan kartu itu punya banyak benefit untuk menikmati kegiatan-kegiatan olahraga.

Pereira memberi contoh sebuah gedung pertandingan yang berkapasitas 10 ribu penonton. Panitia tahu hanya bisa menjual 7.000 tiket. Maka, yang 3 ribu tiket yang mungkin tak terjual itu langsung ditawarkan kepada para relawan dengan diskon khusus (mungkin separo harga).

Kalau pertandingannya seru dan 10 ribu tiket itu pasti habis, para relawan bakal mendapat tawaran harga sama. Bedanya, mereka langsung mendapat tempat duduk lebih baik. Atau, mereka dapat harga sama tapi diberi jalur khusus, sehingga tak perlu ikut antrean panjang.

Sekali setahun, para relawan juga diundang untuk acara makan khusus. Mereka diperlakukan secara istimewa, dilayani oleh orang-orang top. Mulai pejabat pemerintah, selebriti seperti penyiar televisi, bahkan perdana menteri.

Punya 1,5 juta volunteer bukan berarti mereka bisa menyumbangkan tenaga semaunya. Pereira menjelaskan, karena mereka terdaftar, departemen olahraga dan rekreasi tinggal mengirimkan surat atau informasi untuk memberi tugas kepada para relawan tersebut. Kapan dan di mana serta bisa berbuat apa.

***

Soal sumbang-menyumbang waktu dan tenaga itu membuat saya (benar-benar sebagai pribadi) jadi garuk-garuk kepala ingat negeri sendiri. Saya sering lihat mahasiswa kita (mereka menunjukkan itu dengan mengenakan jaket almamater, apalagi kalau dari kampus top) berdiri di pinggir jalan atau perempatan jalan sambil membawa kotak sumbangan.

Para mahasiswa tersebut lantas meminta-minta donasi kepada para pengendara jalan, untuk disumbangkan kepada mereka yang ''membutuhkan''.

Begitu melihat mereka, saya langsung garuk-garuk kepala. ''Hebat ya, mahasiswa kita hanya bisa jadi pengemis. Padahal, mereka itu datang dari kampus ternama. Apa kampusnya tidak malu ya? Punya mahasiswa yang hanya punya ide untuk jadi pengemis ketika berniat mengumpulkan sumbangan?'' begitu pikir saya.

Kalau tidak punya uang dan ingin membantu mereka yang membutuhkan, mengapa harus mengemis? Mengapa tidak menyumbangkan tenaga dalam arti yang sebenarnya? Misalnya, melakukan cuci mobil gratis di jalan-jalan yang kosong. Orang yang punya mobil lantas happy, dan menyumbangkan uangnya. Uang itu lantas diberikan kepada yang membutuhkan.

Bagi saya, itu yang namanya ''menyumbangkan tenaga''. Kalau hanya berdiri di pinggir jalan membawa kotak sumbangan, bagi saya itu bukan ''menyumbangkan tenaga''.

***

Kembali ke Perth dan Australia.

Partisipasi merupakan salah satu modal dasar utama untuk mengembangkan olahraga. Semakin banyak yang mencoba dan berpartisipasi, semakin besar peluang menemukan atlet hebat. Makanya, meski hanya punya 20 juta penduduk, Australia punya banyak sekali atlet kelas dunia.

''Di antara 87 persen partisipan itu, banyak yang menekuni olahraga secara serius. Dari situlah kita bisa menjaring 0,01 persen warga yang kemudian menjadi atlet nasional,'' jelas Pereira.

Di Australia, ''memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat'' bukan sekadar jargon pemerintah...

Ini belum bicara soal infrastruktur, organisasi, dan -yang paling sulit untuk ditiru dan dikejar- sports science. (bersambung)
sumber : http://www.jawapos.com/metropolis/index.php?act=detail&nid=30280